Manfaat Terapi Bekam
Menurut Perpektif Medis dan Non Medis
085868826599 Alamat Bligorejo Doro gg 06
( sebelah SD Bligorejo Doro )
Terapi
bekam sejak dulu sering dilakukan oleh sebagian masyarakat di
Indonesia.
Terapi alternatif ini oleh Kementrian Kesehatan dikategorikan
ke dalam jenis pengobatan tradisional. Masyarakat non medis selama ini
menganggap terapi bekam adalah mengeluarkan darah kotor lewat kulit yang
sudah dilukai dengan alat khusus dan disedot menggunakan mangkuk vakum.
Melihat manfaat bekam ternyata menarik untuk diteliti oleh kalangan
medis. Bukan seperti perpektif masyarakat non medis yang menganggap
bekam berkaitan dengan masuk angin dan darah kotor. Tetapi kalangan
medis mengungkapkan ternyata memang bekam terbukti dapat meningkat
sebagian respon imunitas tubuh yang berdampak dapat meningkatkan
kekebalan tubuh dalam melawan gangguan tubuh.
Bekam adalah
metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis yang mengandung
toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan
pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Pengertian ini
mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit
dan dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum
sebelumnya. Dalam bahasa Jawa disebut cantuk atau kop. Di Sumbawa dan
sekitarnya disebut tangkik atau batangkik. Dalam bahasa Arab disebut
hijamah. Dalam bahasa Inggris disebut blood cupping atau blood letting
atau cupping therapy atau blood cupping therapy atau cupping
therapeutic. Dalam bahasa Mandarin disebut pa hou kuan. Di Asia tenggara
(Malaysia dan Indonesia) dikenal dengan sebutan bekam
Sejarah
Praktek
bekam adalah praktek pengobatan penyakit yang sudah ada sejak ribuan
tahun silam.
Orang yang rutin melakukan bekam diyakini akan sembuh dari
berbagai penyakit. Bekam adalah metode pengobatan kuno yang sudah
dipakai sejak zaman Yunani Kuno dan disebutkan dalam catatan medis
Sanskerta ribuan tahun lalu.
Bekam juga dipakai oleh ilmuwan kedoketeran
Ibnu Sina.
Ibnu Sina di dalam kitabnya Al-Qaanun mengungkapkan:
“Diperintahkan untuk tidak berbekam di awal bulan karena cairan-cairan
tubuh kurang aktif bergerak dan tidak normal, dan tidak diakhir bulan
karena bisa jadi cairan-cairan tubuh mengalami pengurangan. Oleh karena
itu diperintahkan melakukan bekam pada pertengahan bulan ketika
cairan-cairan tubuh bergolak keras dan mencapai puncak penambahannya
karena bertambahnya cahaya di bulan”.
Pada zaman
China kuno seorang herbalis
Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A Handbook
of Prescriptions for Emergencies menggunakan tanduk hewan untuk
membekam/mengeluarkan bisul yang disebut tehnik “jiaofa”,
sedangkan di
masa Dinasti Tang, bekam dipakai untuk mengobati TBC paru-paru . Pada
kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah) , orang-orang di Eropa
menggunakan lintah (al ‘alaq) sebagai alat untuk bekam (dikenal dengan
istilah Leech Therapy) dan masih dipraktekkan sampai dengan sekarang
.
Hippocrates
(460-377 SM), Celsus (53 SM-7 M), Aulus Cornelius Galen (200-300 M)
mempopulerkan cara pembuangan secara langsung dari pembuluh darah untuk
pengobatan di zamannya. Dalam melakukan tehnik pengobatan tersebut,
jumlah darah yang keluar cukup banyak, sehingga tidak jarang pasien
pingsan. Cara ini juga sering digunakan oleh orang Romawi, Yunani,
Byzantium dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan
khasiatnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar